Punya Anak Laki-laki Sama Mirisnya Dengan Anak Perempuan

27 Aug 2013

Saat orangtua mempunyai anak perempuan membuat hati sedikit khawatir. Maklum ada pepatah yang mengatakan, “duwe anak wedok kuwi ancek-ancek pucuking eri” yang artinya kurang lebih “Punya anak perempuan itu seperti berdiri diatas pucuk duri”. Kalau salah melangkah atau tak berhati-hati, maka kita akan tertusuk durinya.

Tapi sepertinya pepatah itu sudah bergeser. Bukan lagi punya anak perempuan yang mengkhawatirkan, anak lelaki pun ternyata juga mengkhawatirkan. Kondisi jaman telah berubah, dimana semua informasi dan kemajuan teknologi bergerak dan mengalir dengan cepat. Apalagi para orangtua sekarang sudah memberikan keleluasaan penggunaan handphone bagi anak mereka yang masih berusia lima tahun sekalipun. Dampak kebebasan dan percepatan aliran informasi bukan tidak mungkin membawa pengaruh buruk bagi perkembangan mental anak-anak.

Kalau dulu kekhawatiran para orang tua terhadap anak perempuan mereka hanya sebatas HDN (maaf, hamil diluar nikah ) karena pergaulan bebas. Sekarang mempunyai anak laki-laki juga sama mengkhawatirkannya. Ikutan “drifting liar”, miras, perjudian, pergaulan bebas, pemakaian narkoba dan masih banyak lainnya. Mendengar keluhan para ibu-ibu tetangga yang anak lelaki mereka bermasalah rasanya membuat bulu kudukku merinding. Ternyata punya anak lelaki juga sama merepotkan orang tua jika para orangtua lalai menjaga pergaulan anak-anaknya.

Meski sebenarnya mana ada orangtua yang membiarkan anaknya terjerumus seperti itu. Terkadang para orangtua sudah berusaha, tapi si anak sudah terlanjur terjerumus karena pergaulan dengan teman-temannya. Lingkungan luar juga sangat mendukung perkembangan anak. Setiap orangtua menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholeha. Tak ada orangtua yang menginginkan anaknya menjadi pencuri, penjudi, pemabuk dan lain sebagainya. Pengaruh lingkungan luar yang kejam bahkan bisa mengubah anak kita yang penurut/ taat bisa menjadi anak pembangkang. Mendidik anak lelaki maupun perempuan penuh dengan lika-liku. Hampir sama yang dialami orang tua kita dulu saat mendidik kita. Kita juga seringkali lupa, mendo’akan anak jika pada saat mereka telah “sesat”. Padahal mendo’akan anak adalah saat mereka masih dalam kandungan sampai mereka tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang sholeh dan sholeha.

Ada beberapa tips untuk mendidik anak secara Islami, dengan harapan besar mereka akan menjadi anak-anak sholeh/sholeha :

  1. Biasakan anak bangun pada waktu Subuh. Tak jarang orangtua merasa kasihan jika anak-anak mereka harus bangun lebih awal. Tapi ini adalah cara untuk melatih mereka untuk agar melakukan sholat Subuh. Latihan dini akan membuat anak-anak terbiasa bangun pagi. Bukankah Rosul telah bersabda saat melihat Fatimah masih telentang di tempat tidurnya : “Puteriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan hati Allah , dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu mulainya Subuh sampai terbitnya matahari (HR. Al-Baihaqi)”.
  2. Berikan anak lingkungan pergaulan dan pendidikan yang Islami. Biasakan anak-anak untuk terlibat di kegiatan masjid seperti TPA, sholat tarawih berjama’ah di musholla/masjid dan bukannya malah terlalu sering diajak ke mall-mall. Maka sifat yang akan muncul adalah sifat konsumtif.
  3. Berikan tauladan yang baik. Seringkali orangtua lupa sering menyuruh anak sholat tapi kita sendiri tidak melakukannya. Saat seorang anak ditanya mengapa mereka tidak sholat, kebanyakan mereka menjawab karena orangtua mereka juga tidak sholat. Maka alangkah baiknya jika orangtua memberikan contoh yang baik, maka secara otomatis anak akan tergugah untuk mengikutinya tanpa kita perintah sekalipun.
  4. Perkenalkan batasan aurat sejak dini. Berikan anak-anak perempuan dengan pakaian yang menutup auratnya. Kalau mereka sejak dini terbiasa menggunakan pakaian Islami. Insya Allah saat mereka dewasa mereka akan merasa tidak nyaman jika mempertontonkan aurat mereka.
  5. Biasakan membawa peralatan sholat saat bepergian. Meskipun sekarang di masjid sudah banyak menyediakan mukena, maka tidak ada salahnya membiasakan anak perempuan kita untuk membawa peralatan sholat sendiri yang lebih terjamin kebersihan dan kesuciannya. Ingat mukena, Ingat Sholat .
  6. Jadwalkan menonton TV dan dampingi anak saat menonton. Sekarang ini banyak sekali acara TV yang tidak mendidik dan mengganggu perkembangan mental anak. Jadi mulailah membuat jadwal menonton dan dampingi mereka. TV sangat membawa pengaruh besar bagi perkembangan mereka dimana sinetron sudah dengan bebasnya mempertontonkan adegan bermesraan anak-anak yang sebelumnya belum pantas mereka lakukan.
  7. Menjadi sahabat setia anak. Orangtua seringkali dengan ke-egoannya merasa bahwa mereka harus dihormati, disegani dan bahkan ditakuti. Disaat paling kritis anak, dimana mereka lebih membutuhkan perhatian, maka menjadi sahabat adalah jalan terbaik. Mereka dengan bebas bisa menceritakan keluh kesah mereka kepada orangtua dengan nyaman.
  8. Menciptakan suasana hangat dan harmonis di keluarga. Kondisi kondusif seperti ini akan membuat anak merasa nyaman berada dekat dengan orangtua dan tidak mencari tempat lain untuk pelampiasan.
  9. Melakukan semua tips diatas dengan sabar dan konsisten. Semua tips hanya akan berakhir sebagai tulisan jika tidak dilakukan dengan sabar dan konsisten. Ingatlah… bahwa orangtua kita dahulu juga mendidik kita dengan sabar dan penuh kasih sehingga menjadikan kita menjadi pribadi yang baik. Maka saat kita telah menjadi orangtua, maka anak-anak kita akan merasakan hal yang sama dengan apa yang kita rasakan seperti dahulu. Untuk para orangtua yang dahulunya punya pengalaman pahit dengan masa kecilnnya. Maka berusahalah untuk tidak memberikan pengalaman pahit dan trauma itu kembali kepada anak-anak kita.

Semoga dengan tips diatas, anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholeha. Dan tentu saja tetap mendoakan mereka saat sholat, seperti doa Nabi Ibrahim :

“Robbanaa hablana min azwaajina wa dzurriyatina qurrota a’yunina waja’alna lil muttaqina imaama”


TAGS doa mencari rezeki


-

Author

Follow Me