Mengapa Haji Menjadi Gelar ?

23 Aug 2013

Bukan rahasia lagi sebenarnya jika di Indonesia ini, hal yang tidak mungkin menjadi mungkin terjadi. Hal yang sepele pun terkadang menjadi diperbesarkan. Sampai naik haji pun “disunnahkan” menyandang gelar Haji. Dulu aku tak pernah mempermasalahkan hal ini. Semakin lama diperhatikan, kok rasanya nggak enak juga kalau dibiarkan. Yach paling tidak postingan ini adalah bentuk kepedulian terhadap masyarakat kita yang masih bangga dengan status dan gelar. Sepertinya kok sudah menjadi “penyakit hati” jika tak menyandang gelar itu bila sudah menunaikan Rukun Islam yang kelima ini.

Aku terusik dengan gelar ini saat tetanggaku merasa sakit hati saat namanya tertulis tanpa embel-embel haji.

” Naik haji itu biayanya mahal… kok dengan seenaknya tulis nama tanpa H*** ” , begitu dia bilang.

Dalam hati aku cuma tertawa, walau mati gelar apapun tak akan dibawa kenapa dia bisa sesewot itu. Masalah yang menurutku lebih krusial lagi adalah saat mereka sudah pulang ke tanah air pun mereka sudah sepakat membuat perhimpunan haji (sekumpulan orang-orang yang sudah naik haji). Dengan membentuk komunitas tersendiri seperti itu apalagi aku dengar anggotanya sudah ratusan bahkan ribuan, tidak menutup kemungkinan akan membuat kesenjangan sosial di masyarakat semakin lebih lebar dan dalam. Yang haji ngumpul yang sudah haji, yang belum haji ngumpul dengan yang belum. Diskriminatif banget itu *** Besengutmodeon***

Ini masih menyangkut gelar haji, belum lagi nama panggilannya yang harus berubah karena sudah menunaikan ibadah haji. Tidak jarang nama panggilan harus diembel-embeli dengan umi/abah. Padahal kalau kita tahu artinya, umi/abah itu kan bahasa Arab yang artinya dalam bahasa Indonesia juga Ibu/bapak :D .

Menurutku kita harus bertindak adil sebenarnya. Kalau Rukun Islam yang kelima ini mendapatkan pengakuan dengan penempelan gelar. Maka Rukun Islam yang lain seharusnyalah juga mendapat gelar. Pengakuan pelaksanaan Rukun Islam sebenarnya adalah bentuk hubungan kita sebagai manusia dengan Tuhan. Apakah setelah membaca dua kalimat syahadat kita perlu mendapatkan gelar S.S (Sudah Syahadat) ? Apakah setelah dengan rajin menunaikan sholat lima waktu kita akan mendapatkan gelar S.Sh (Sudah Sholat) ? Apakah setelah kita melaksanakan puasa dengan sempurna akan mendapatkan gelar S.P (Sudah Puasa) ? apakah setelah kita mengeluarkan sebagian harta kita/zakat/sedekah apakah mendapatkan gelar MZ (Master Zakat) ? Lalu mengapa setelah kita mampu menunaikan ibadah haji ke Mekkah harus mendapatkan gelar H/Hj. ? Ironis kan ? Maka bisa dikatakan kita tidak berlaku adil terhadap Rukun Islam.

Meski tidak semua orang yang sudah menunaikan ibadah haji menginginkan gelar ini harus berdampingan dengan nama aslinya. Namun sebagian besar menunjukkan indikasinya. Apalagi letaknya harus didepan mengalahkan gelar-gelar akademis lainnya :D Dan untungnya gelar ini hanya menempel sekali saja seumur hidup. Coba bayangkan bagaimana kalau ibadah haji ini dilakukan berkali-kali dan setiap pelaksanaannya harus mendapatkan gelar. Bisa-bisa gelarnya menjadi H.H.H.H.H.H.H.H ….. atau bisa disingkat menjadi M.H (Master Haji) . Menunaikan ibadah haji itu sekali seumur hidup. Meski mempunyai dana untuk bisa menunaikan ibadah haji berkali-kali, alangkah baiknya jika dana itu diberikan kepada masyarakat yang kurang mampu daripada hanya untuk memuaskan nafsu diri sendiri untuk bisa ke Baitullah. Insya Allah itu akan lebih berkah. Hikmahnya juga bisa lebih besar misalnya, bisa mengurangi waitinglist haji , mengurangi tingkat kemiskinan dan sebagainya.

Gelar tanpa arti jika tindak tanduk kita tidak sejalan dengan apa yang seharusnya dilakukan jika sudah melaksanakan ibadah haji ini. Bagi mereka yang akan menunaikan ibadah haji, semoga menjadi Haji Mabrur. Insya Allah


TAGS Haji


-

Author

Follow Me