Anakku Tidak Gila

20 May 2012

Sewaktu hamil anak kedua, aku tak merasakan ada perbedaan dengan kehamilan pertama.Sama seperti kehamilan ibu-ibu lain.Perut mual di tiga bulan pertama, bulan berikutnya hampir tak ada kendala. Bahkan terkesan sehat karena berat badanku bertambah hampir 20 kilo. Tapi karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, aku seringkali makan nasi berlaukkan kecap atau krupuk. Maklum saja suamiku cuma seorang tukang tambal ban yang penghasilannya tak menentu yang cukup untuk membeli beras dan lauk seadanya. Dan itu berlangsung sejak aku mengandung anak pertamaku. Kondisi ini sudah terbiasa, aku merasakannya sebagai suatu kenikmatan yang luar biasa karena aku masih bisa makan walau seadanya.

Tepat 9 bulan 10 hari, lahirlah anak keduaku. Kali ini laki-laki, anak pertama perempuan. Pas sudah, sudah cukup dua anak saja. Kini aku berkonsentrasi membesarkan anak-anak dengan segala kekurangan. Penghasilan suamiku masih kembang kempis, bahkan terkadang aku cuma bisa membeli beras 250 gram saja. padahal ada 4 orang yang harus makan, terpaksa aku membeli singkong atau ketela rambat untuk mengganjal perut agar tak kelaparan.

Tak terasa anakku sudah berumur 18 bulan. Kondisi keuangan semakin membaik walau tak bisa dikatakan berlebihan karena aku sudah mampu membelikan susu formula untuk anak keduaku. Meski memang sering aku buat susu encer untuk berhemat. Dia sudah bisa berjalan tapi masih belum bisa berbicara. Aku pikir mungkin kondisinya sama seperti kakaknya dulu yang baru 2 tahun bisa berbicara. Dan kuanggap ini sebagai hal biasa karena memang aku tak menemukan keganjilan apapun.Di usia 2 tahun, dia masih belum bisa berbicara juga. Aku pikir dia masih cedal karena memang dia berusaha berbicara tapi aku tak bisa mengerti apa yang dibicarakannya. Dia sering marah-marah, membanting semua mainannya kalau aku mulai tak mengerti apa yang diinginkannya. Dia juga sering tak memperhatikanku apalagi menjawab atau menoleh saat kupanggil namanya. Dan gejala ini masih kuanggap biasa saja karena memang aku tak mengerti apa-apa tentang hal ini. Aku hanyalah wanita muda yang dipaksa menikah di usia muda karena ketentuan adat suku di daerahku. Sekolahku pun tak sampai tamat SMP karena harus menikah.
Sampai suatu hari tetanggaku, yang kebetulan seorang guru memperhatikan anakku. Aku memang sering mengajak main anakku ke rumah beliau hanya untuk bertanya ini itu. Beliau mencoba mengatakan kepadaku bahwa kemungkinan besar anakku penderita autis. Beliau menyarankan untuk membawa anakku ke dokter untuk memastikan sesuatu yang buruk tidak terjadi. Dan benar saja… dokter menyatakan anakku adalah penderita autis. Istilah apa lagi itu, aku tak mengerti sama sekali. Apalagi suamiku yang hanya seorang tukang tambal ban? Dan apa yang harus aku lakukan? Aku tak punya cukup uang untuk mengobati atau melakukan terapi untuknya.

Hari demi hari aku lalui bersama anakku yang kubiarkan saja tanpa ada perlakuan apa-apa karena ketidaktahuanku akan penyakitnya. Bahkan untuk membawanya ke dokter pun aku tak mampu walau hanya untuk sekedar konsultasi pribadi. Atas saran tetanggaku yang guru itulah, aku membawa anakku ke rumah sakit daerah dengan berbekal surat keterangan miskin (JAMKESMAS). Dan untung saja di sana aku bisa sedikit berlega hati karena anakku sudah tertangani walau perlu ada penanganan lanjutan nantinya untuk pendidikannya.

Anakku masih berusia 2,5 tahun saat itu. Tingkah dan sikapnya makin sulit terkontrol. Dia gampang marah dengan omelan-omelan yang tak jelas ucapannya. membanting semua barang yang ada di dekatnya, berteriak keras-keras dan bahkan tak jarang memukulku karena aku tak mengerti apa yang diucapkannya. Aku malu dengan tetangga karena kelakuan anakku. Meski usianya masih 2,5 tahun tapi tinggi badannya hampir sama dengan anak berusia 4 tahun. Badannya tinggi dan besar. Para tetangga sering membicarakan anakku. Kata mereka anakku gila. Anak-anak kecil seusianya pun tidak ada yang berani bermain dengan anakku karena mereka takut bila anakku menyakiti mereka. Suatu kali aku pernah secara tak sengaja mereka mengolok-olok anakku dengan sebutan ” anak gila”. Ya Allah… cobaan apalagi yang kau berikan kepada keluargaku hingga harus seberat ini. Anakku hanyalah seorang anak yang tak tahu apa-apa hingga mereka sampai tega mengatakan anakku gila. Kadang aku stress dan marah karena perlakuan mereka pada anak dan keluargaku. Orang tua mana yang mau anaknya menderita seperti ini. Pernah aku berpikir untuk menjual rumah dan pindah saja dari lingkunganku sekarang agar terbebas dari cemoohan orang. Tapi aku kembali tersadar, buat apa aku pindah kalau pemahaman masyarakat tentang autis masih kurang. Dimanapun aku tinggal, jika mereka mengganggap apa yang diderita anakku adalah sebuah aib dan bahkan seolah-olah adalah penyakit menjijikkan, mereka akan memperlakukanku sama seperti lainnya. Pemahaman mereka tentang autis seperti momok mengerikan, penyakit ganas yang menular hingga mereka berusaha untuk menjauh bahkan seakan-akan ingin mengusirku keluar agar mereka tak tertular. Hanya beberapa orang tetanggaku yang mengerti kondisiku ini, merekalah yang memberiku semangat untuk tetap tabah dan semangat agar bertahan dari kondisi ini. Merekalah yang memberiku masukan-masukan melalui internet apa itu autis.

Kini anakku sudah berusia 7 tahun. Dia sudah bisa berbicara meski belum jelas dan mampu mengenal benda-benda disekitarnya. Dia juga pandai melukis yang entah didapat darimana kemampuannya itu. Dia juga bersekolah di sekolah khusus autis dengan bantuan para dermawan. Kondisi seperti ini saja aku sudah bersyukur bahwa ternyata diluar sana masih ada orang-orang yang peduli. Dan aku tetap yakin bahwa anakku tidak gila.

cerita ini didedikasikan untuk anandaku tercinta yang senantiasa akan tetap menjadi anugerah terindah buatku dan keluargaku.


TAGS Cerpen autis


-

Author

Follow Me